what if I don't like what I get to know

Masih banyak hal yang belum kita lakukan, sementara hari terus berganti. Tapi tenang, mungkin aku sudah tidak lagi terlalu menggebu dan memaksa dalam menanggapi semua rencana indah kita, cukup mengamini. Aku hanya tidak ingin semua kebagiaan yang kita ciptakan menjadi semu karena paksaan, apalagi atas dasar rasa kasihan. Lebih baik bersyukur atas masih bersamanya kita sampai saat aku menulis ini.

Menjejakkan kaki di pasir Pantai Pangandaran, aku rasa sudah diwakili oleh hangatnya air di pemandian Garut.

Menikmati makan malam romantis di ketinggian, cukup diwakili dengan pemandangan ‘bukit bintang’ dari Punclut.

Karokean? Hampir setiap hari kita bernyanyi dalam kesempatan apa pun, saat mengendarai motor sekali pun.

Berlibur? 2 kali ikut gathering dengan CISC Bandung dan CISC Cimahi sangat cukup bagiku untuk bisa seharian dengan kamu, dari pagi sampai pagi lagi.

Photobox? Saat ini kita hanya harus berterima kasih kepada orang-orang yang telah menciptakan handphone dilengkapi kamera depan dan belakang.

Culinary Night? Tergantikan lah seiring seringnya kita keluar malam begadang buat nonbar. Kan sama-sama keluar malam, jajan, dan ramai.

Aku percaya pada apa pun yang terjadi adalah yang terbaik.
Asal denganmu, akan kunikmati dan kuhargai setiap detik kebersamaan kita.


190414 23.57 Bdg

Ada awal yang sebenarnya ingin kita capai, meski tidak mudah untuk menyelesaikan apa yang sebelumnya dijalani.
Bukan lagi perihal cinta, melainkan perasaan yang sudah terlanjur menancap kuat dalam kalbu. Semacam perasaan…yang kalau disudahi sekarang terlalu terburu-buru.

Chemistry

Nggak semua orang suka pelajaran Kimia, tapi nggak jarang juga banyak orang yang suka dengan chemistry.
Chemistry itu semacam ‘getaran’ yang bergejolak saat kita bersinggungan dengan seseorang.

Dan aku, belum pernah seyakin ini dengan seseorang. Bahkan sebelum bertemu, saat baru mengeja namanya.

Kadang, kita sadar dengan siapa kita menjalin hubungan. Tapi nggak jarang secara tidak sadar kita mendoakan siapa yang lebih kita harapkan untuk menjadi pendamping sejati.

Tentang Cinta (Pertama)

Seorang murid curhat ke gue tentang cowok yang naksir dia tapi malah jadian sama cewek lain, padahal cewek itu adalah (katanya) cinta pertamanya.
Gue cuma jawab, “Pacar pertama belum tentu cinta pertama. Cinta pertama belum tentu jadi pacar pertama.”

Curhatan singkat ini seolah mengajak gue kembali ke masa lalu.

Gue nggak pernah mau masuk SMA ini, sebelum gue tau kalau gue bakal nemuin ‘cinta’ di sini. Sebut saja D, dulu gue inget detil tentang pertemuan pertama kami, sekarang gue lupa. Yang gue inget adalah gue selalu deg-degan tiap berdekatan dengan dia.

Berawal dari pura-pura nanyain PR, gue memberanikan diri buat sms dia, tentunya nomer dia gue dapet dari temen sekelasnya. Lama gue tunggu, dia tak kunjung membalas sms. Yah.

Sekitar pukul 01.30an hp gue bunyi. Yess, dia bales sms gue. Perut gue mules seketika. Jadilah malam itu kita smsan. Dari situ gue tau kalau dia fans MU.

Paginya, di sekolah kami seolah tak pernah terjadi apa-apa. Hampir setiap malam kami smsan, paginya kami saling cuek. Dekat di keypad jauh di hati.

Sampai akhirnya dia minjem buku catatan Sosiologi gue. Gue seneng banget waktu dia ke rumah buat ngembaliin buku. Gue masih inget pakaian yang dia kenakan, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Semuanya. Sayangnya dia nggak bisa lama-lama karena ada keperluan lain.

Gue juga pernah ditraktir dia makan di kantin sekolah. Eh, ngomong-ngomong soal traktiran, gue jadi inget kali pertama gue ketemu dia.

Siang itu, awal-awal jadi siswa baru di SMA, gue pulang jalan kaki karena bapak nggak bisa jemput. Gue jalan kaki bareng temen-temen SMP dan ada dia juga. Menurut kacamata gue saat SMA, dia itu cool!
Sepanjang jalan gue curi-curi pandang dengannya, sesekali melihat ke bet nama di seragam OSIS tapi tak terbaca, mau nanya, malu.
Perjalanan cukup panjang dan panas membuat kami akhirnya membeli es kelapa muda. Gue nggak beli karena uang saku habis. Terus tiba-tiba dia ngasihin es kelapa muda buat gue. “Aku bayarin.”, katanya. Ah, gue langsung salting.
“Rosa ya?”, tanya dia pas liat sebagian bet nama gue.
“D ya?”, balas gue.
Perkenalan singkat itu bikin gue bersyukur masuk SMA ini.

Kita makin deket tapi tak pernah bersinggungan. Sampai akhirnya gue harus patah hati ketika dia jadian sama cewek sekolah lain. Nilai ulangan mid semester gue ancur, bahkan nilai Bahasa Jerman gue 3! Kacau.

Setelah itu kami saling berjarak, seperti tak pernah kenal. Dulu selalu ada topik untuk kami berkomunikasi, dari hal sepele seperti, “Kasian deh MU kalah.”, “Eh harga Soccer berapaan sih?”, “Nanti ada bola ga?”, “Tadi kelas kamu berisik banget.”, dan hal-hal sepele lainnya, sekarang gue nggak punya nyali untuk sekedar basa-basi.

3 tahun di SMA, gue nggak pernah tau tentang perasaan dia ke gue.
Ada hal-hal yang selalu gue inget tentang kami:
Waktu dia bilang, “Cuma kamu lho yang manggil aku pake nama tengah aku.”
Waktu dia main ke rumah untuk kedua kalinya dan ngobrol lama.
Waktu dia mau main ke rumah lagi tapi gue lagi di Bandung.
Waktu dia nanya, “Kamu udah jadian ya?”
Waktu dia ngasih artikel tentang Drogba, karena dia tahu klo gue suka bikin kliping tentang Chelsea.
Waktu gue akhirnya memberanikan diri minta foto bareng dia saat kelulusan.
Banyak. Banyak hal yang kadang bikin gue kesel sendiri.

Ya, begitulah bagaimana gue jatuh cinta untuk kali pertama. Jatuh cinta yang tak tersambut seiring dengan perlakuan lembutnya.
Sekarang, gue cukup mengingatnya sebagai cinta monyet. Gue udah nggak tau lagi kabar dia, karena sekarang gue terlalu sibuk untuk mencintai hati yang baru, cinta kingkong gue.

Hahahahaha, geleuh.

Bandung, 19 April 2014
00.04

I Love Bandung, But…

Waktu terus bergulir seiring dengan kenangan yang kian memenuhi relung hati. Nggak kerasa dalam hitungan bulan aku harus ‘keluar’ dari Bandung, kota yang seolah membuatku ingin terus bernostalgia.
Ada perasaan sedih tiap kali memandang kalender, menghitung mundur saat perpisahan itu tiba.
Aku memulai kehidupan di Bandung 5 tahun lalu, tepatnya Agustus 2009. Waktu itu aku baru kuliah. Kuliah di Bandung bukan sepenuhnya kehendakku, tapi ya iseng aja daftar di salah satu PTN Bandung dan ternyata lulus. Sama sekali melenceng dari perkiraan. Sebagai orang Tegal aku ingin kuliah di Semarang, Solo, atau Jogja, bukan Bandung.
Satu hal yang telintas dalam benak adalah perjalanan yang jauh, macet, beda bahasa daerah, dan segala kekhawatiran karena jauh dari keluarga. Tapi aku mencoba bersikap tenang.
Kesan pertama aku tinggal di sini adalah: biaya hidup mahal! Bayangkan, tahun 2009 beli nasi dan telor ceplok di Tegal cuma 2000 rupiah, di sini nasi setengah dan telor ceplok dihargai 4000 rupiah. Aku syok. Hahaha. Rasanya ingin kembali ke Tegal.
Aku juga masih canggung memanggil senior dengan sebutan aa, kang, atau teteh. Ditambah dengan kemacetan yang kerap kali membuatku uring-uringan, serta udara yang sangat dingin di pagi dan malam hari membuatku tidak betah. Aku sering menangis tiap malam.
Syukurkah kehadiran teman-teman membuatku terhibur. Aku mulai betah tinggal di kota ini, sangat betah.
Seharusnya sudah dari Oktober 2013 aku pulang kampung setelah wisuda, tapi kenyataannya aku wisuda di gelombang selanjutnya. Ada perasaan sedih sekaligus senang saat tahu wisudaku diundur. Artinya, aku masih bisa tinggal lebih lama lagi di sini. Sambil menunggu wisuda, aku melamar kerja sebagai guru di sekolah dan bimbel. Pada bulan November aku mulai bekerja sebagai guru bimbel. Artinya, aku lebih lama lagi di sini. YESS! Meskipun aku hanya dikontrak sampai bulan Juni, tidak masalah. Aku hanya ingin tinggal lebih lama lagi di Bandung, aku sudah jatuh cinta kepada seisi kota ini.
Sampai pada suatu ketika temanku dari Tegal menanyakan kabarku. Ya sebagai teman lama kami pun ngobol. Dia bertanya kenapa aku mengajar di Bandung, bukan Tegal. Kemudian dia berkata kalau aku juga dibutuhkan di kota asalku, mengingat Tegal adalah kota yang kecil.
Aku pun merenungkan kata-katanya. Aku berasal dari Tegal, menuntut ilmu di kota besar ya untuk kembali lagi ke Tegal, menerapkan ilmu yang sudah aku serap. Aku tiba-tiba sedih.
Ada hal lain yang membuatku semakin sedih. Waktu itu aku ngobrol berdua dengan ibu. Ibu bilang kalau aku sebaiknya pulang aja, mengajar di Tegal.
“Ibu kesepian.”, katanya lirih.
Ya aku sadar, bapak dan ibu semakin menua, kakakku sedang melanjutkan studi di Belanda dan sudah jadi warga Jakarta, kemudian adikku sudah beranjak dewasa, sebentar lagi kuliah di kota lain, artinya bapak dan ibu akan tinggal sendirian di rumah. Aku diam saja waktu itu, dadaku rasanya sesak. Di satu sisi aku ingin bekerja di kota besar yang penghasilannya jauh lebih besar daripada di Tegal, tapi di sisi lain juga aku tidak tega melihat bapak ibu sendirian, pasti sepi sekali.
Memang sangat terasa perbedaan saat aku masih kuliah dengan sekarang, waktu kuliah aku masih bisa sering pulang, sedangkan saat sudah kerja susah sekali menemukan waktu yang pas untuk pulang kampung. Bapak dan ibu sering meneleponku, menanyakan kapan aku mudik atau sekedar bertanya kabar.
Mungkin sekarang saatnya aku untuk tidak egois. Mungkin bapak dan ibu jauh lebih senang saat ditemani anaknya daripada dikirim uang tiap bulan tapi kesepian. Mba Anggi sudah menetap di ibu kota, sedangkan Nanda laki-laki yang pasti akan melancong, mungkin memang aku yang harus menemani bapak dan ibu. Kebetulan aku juga seorang guru, pun dengan orangtuaku. Mungkin akan lebih menyenangkan berbagi cerita seputar anak didik dengan mereka.
Apapun yang terjadi kelak, aku tahu, Tuhan mahapemberi nikmat. Entah pada akhirnya aku akan bekerja di mana, setidaknya aku sudah merencanakan yang terbaik.

Bandung, 19 Maret 2014
00.35

Cewek GR dan Cowok Baik

Ini adalah tentang bagaimana reaksi cewek GR saat bertemu dengan cowok baik, baik ke setiap wanita maksudnya.
Nggak mudah ternyata ‘didekati’ cowok baik tanpa melibatkan perasaan. Sekeras apapun hati menolak, akhirnya runtuh juga.
Dari yang awalnya hanya untuk sekedar ‘have fun’ malah menjadi bumerang untuk diri sendiri.
Dari yang awalnya hanya untuk teman membunuh sepi justru menjadi kesepian saat dia nggak ada.
Dari yang awalnya untuk partner foto-foto, justru jadi kesel sendiri tiap liat dia upload foto dengan wanita yang berbeda setiap minggunya. hih ngeselin!
Dari yang awalnya untuk sekedar teman makan, justru bikin kemakan omongan sendiri perihal “kita cuma teman, kan?”
Dari yang awalnya nggak ada apa-apa, sekarang jadi apa-apa bagi si cewek GR.
Dan dari yang awalnya cuma untuk melampiaskan rasa penasaran yang udah dipendam sejak lama, sekarang menjadi “mending nggak usah kenal.”

Bandung, 2 Februari 2014
13.49

Paradoks Memilih

"Semakin banyak pilihan, semakin kamu tidak bahagia."

Kenapa? Bukannya semakin banyak pilihan berati semakin bisa menentukan mana yang terbaik ya?

Begini, coba bayangkan saat kamu membeli baju. Ada 5 pilihan warna; merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan pink. Eh itu berati 6 pilihan.
Ketika akan membeli satu baju, kamu akan banyak berpikir, warna mana yang sekiranya cocok, setelah lama memilih, kamu membeli yang hijau, padahal saat itu bisa saja kamu sebenernya suka dengan yang biru. Sesampainya di rumah, kamu akan memikirkan tentang baju yang biru; kemudian ada sedikit rasa menyesal telah membeli yang hijau.

Atau kamu masih terus membandingkan antara yang telah kamu miliki dengan yang biru tadi.Jika saat itu pilihannya hanya biru, kamu tidak akan bingung, kan?

Sama halnya ketika kamu didekati banyak lelaki. Harusnya kamu senang, bukan? Tapi ya seperti tadi, kamu akan terus membandingkan.  Nah, misal kamu didekati tiga lelaki: lelaki pertama adalah yang kamu suka dari dulu, lelaki kedua adalah yang membuat kamu nyaman, dan lelaki ketiga adalah lelaki yang baik hati. Saat itu kamu menjadi pemikir; mana yang nantinya kamu pilih. Dan setelah bisa memilih, akan ada rasa bersalah pada dua lelaki lainnya, setelahnya kamu akan terus membandingkan lelaki yang kamu pilih dengan dua lelaki lainnya. Ketiganya akan terlihat kurang di mata kamu.
Berbeda saat kamu hanya didekati satu lelaki, kamu akan santai dan bahagia menjalaninya; merasa membutuhkan dan merasa saling melengkapi kekurangan masing-masing; tanpa harus mencari ‘pelengkap’ dari lelaki lain.

Begitulah. Mungkin.

Bandung, 19 Januari 2014
16:26

Lembek-Lembek ‘Nyony’

#30HariCeritaKebodohanMasaKecil #19 
@soyidiyos @zulhaq_

Gue rasa adik sengaja diciptakan untuk disuruh-suruh oleh kakaknya. Itu yang gue alami waktu kecil; sering disuruh ini itu sama kakak gue. Dia cewek, beda 5 tahun sama gue. Misalnya ibu nyuruh dia beli sesuatu, yang dia lakukan adalah nyuruh gue. Ya sebagai adik yang berbakti, gue pun nurut aja. Gue sering kesel sih tapi tak berdaya. #apeu.
Dia juga sering nyuruh gue masakin mie instan. Terus bikin pilihan ngehe: 1) mie dibagi dua oleh gue, dia yang milih, atau 2) mie dibagi dua oleh dia, gue yang milih. Dan gue selalu milih opsi kedua!
Suatu hari gue masak mienya kelamaan, nggak sengaja sampai lembek. Gue bagi dua, terus nyuruh dia milih. Ngeliat bentuk mienya lembek gitu, dia nggak mau. Akhirnya satu porsi mie jatuh ke tangan gue. Hahaha.
Hari-hari selanjutnya gue selalu sengaja bikin mienya kelembekan, biar dia nggak mau.

Padahal, gue pun sebenernya ga suka sama mie yang lembek gitu; geleuh kalo kata orang Sunda mah. Tapi, demi bisa makan mie seporsi tanpa dibagi, gue rela makan mie yang lembek :( Padahal ibu ngelarang kami keseringan makan mie instan, nggak baik buat kesehatan. Itulah kenapa di keluarga gue, nggak pernah ada yang makan mie sebungkus untuk sendiri, selalu dibagi ke yang lain. Mungkin, gue pengecualian :(

Bandung, 19 Januari 2014
15:55

Mie Instan

#30HariCeritaKebodohanMasaKecil #Day18
@soyidiyos @zulhaq_

Generasi 90an mungkin tau banget sama Krip-krip dan Anak Mas. Kedua jajanan ini cukup populer soalnya di masa kecil gue. Bentuknya mie gitu yang ditaburin bumbu kemudian diremas-remas, kalau Krip-krip sih langsung dimakan aja soalnya dari sononya udah dicampur bumbu dan diremukin. Rasanya enak! Tapi meski demikian gue dilarang kebanyakan makan ini sama ibu.
Waktu itu gue udah kelas 3, udah boleh tuh nyalain kompor untuk sekedar masak mie instan. Ya namanya juga bocah baru dibolehin megang sesuatu, gue jadi pengin masak mulu. Jatuhlah pilihan gue buat nyobain masak mie Anak Mas, gue pikir rasanya bakal sama aja kayak mie instan pada umumnya. Pas gue diemin di air yang mendidih, beberapa menit kemudian mienya jadi ancur. Gue matiin kompornya. Gue gagal sebagai anak perempuan yang baru masuk dapur.

Bandung, 19 Januari 2014
15:39