what if I don't like what I get to know
I Love Bandung, But…

Waktu terus bergulir seiring dengan kenangan yang kian memenuhi relung hati. Nggak kerasa dalam hitungan bulan aku harus ‘keluar’ dari Bandung, kota yang seolah membuatku ingin terus bernostalgia.
Ada perasaan sedih tiap kali memandang kalender, menghitung mundur saat perpisahan itu tiba.
Aku memulai kehidupan di Bandung 5 tahun lalu, tepatnya Agustus 2009. Waktu itu aku baru kuliah. Kuliah di Bandung bukan sepenuhnya kehendakku, tapi ya iseng aja daftar di salah satu PTN Bandung dan ternyata lulus. Sama sekali melenceng dari perkiraan. Sebagai orang Tegal aku ingin kuliah di Semarang, Solo, atau Jogja, bukan Bandung.
Satu hal yang telintas dalam benak adalah perjalanan yang jauh, macet, beda bahasa daerah, dan segala kekhawatiran karena jauh dari keluarga. Tapi aku mencoba bersikap tenang.
Kesan pertama aku tinggal di sini adalah: biaya hidup mahal! Bayangkan, tahun 2009 beli nasi dan telor ceplok di Tegal cuma 2000 rupiah, di sini nasi setengah dan telor ceplok dihargai 4000 rupiah. Aku syok. Hahaha. Rasanya ingin kembali ke Tegal.
Aku juga masih canggung memanggil senior dengan sebutan aa, kang, atau teteh. Ditambah dengan kemacetan yang kerap kali membuatku uring-uringan, serta udara yang sangat dingin di pagi dan malam hari membuatku tidak betah. Aku sering menangis tiap malam.
Syukurkah kehadiran teman-teman membuatku terhibur. Aku mulai betah tinggal di kota ini, sangat betah.
Seharusnya sudah dari Oktober 2013 aku pulang kampung setelah wisuda, tapi kenyataannya aku wisuda di gelombang selanjutnya. Ada perasaan sedih sekaligus senang saat tahu wisudaku diundur. Artinya, aku masih bisa tinggal lebih lama lagi di sini. Sambil menunggu wisuda, aku melamar kerja sebagai guru di sekolah dan bimbel. Pada bulan November aku mulai bekerja sebagai guru bimbel. Artinya, aku lebih lama lagi di sini. YESS! Meskipun aku hanya dikontrak sampai bulan Juni, tidak masalah. Aku hanya ingin tinggal lebih lama lagi di Bandung, aku sudah jatuh cinta kepada seisi kota ini.
Sampai pada suatu ketika temanku dari Tegal menanyakan kabarku. Ya sebagai teman lama kami pun ngobol. Dia bertanya kenapa aku mengajar di Bandung, bukan Tegal. Kemudian dia berkata kalau aku juga dibutuhkan di kota asalku, mengingat Tegal adalah kota yang kecil.
Aku pun merenungkan kata-katanya. Aku berasal dari Tegal, menuntut ilmu di kota besar ya untuk kembali lagi ke Tegal, menerapkan ilmu yang sudah aku serap. Aku tiba-tiba sedih.
Ada hal lain yang membuatku semakin sedih. Waktu itu aku ngobrol berdua dengan ibu. Ibu bilang kalau aku sebaiknya pulang aja, mengajar di Tegal.
“Ibu kesepian.”, katanya lirih.
Ya aku sadar, bapak dan ibu semakin menua, kakakku sedang melanjutkan studi di Belanda dan sudah jadi warga Jakarta, kemudian adikku sudah beranjak dewasa, sebentar lagi kuliah di kota lain, artinya bapak dan ibu akan tinggal sendirian di rumah. Aku diam saja waktu itu, dadaku rasanya sesak. Di satu sisi aku ingin bekerja di kota besar yang penghasilannya jauh lebih besar daripada di Tegal, tapi di sisi lain juga aku tidak tega melihat bapak ibu sendirian, pasti sepi sekali.
Memang sangat terasa perbedaan saat aku masih kuliah dengan sekarang, waktu kuliah aku masih bisa sering pulang, sedangkan saat sudah kerja susah sekali menemukan waktu yang pas untuk pulang kampung. Bapak dan ibu sering meneleponku, menanyakan kapan aku mudik atau sekedar bertanya kabar.
Mungkin sekarang saatnya aku untuk tidak egois. Mungkin bapak dan ibu jauh lebih senang saat ditemani anaknya daripada dikirim uang tiap bulan tapi kesepian. Mba Anggi sudah menetap di ibu kota, sedangkan Nanda laki-laki yang pasti akan melancong, mungkin memang aku yang harus menemani bapak dan ibu. Kebetulan aku juga seorang guru, pun dengan orangtuaku. Mungkin akan lebih menyenangkan berbagi cerita seputar anak didik dengan mereka.
Apapun yang terjadi kelak, aku tahu, Tuhan mahapemberi nikmat. Entah pada akhirnya aku akan bekerja di mana, setidaknya aku sudah merencanakan yang terbaik.

Bandung, 19 Maret 2014
00.35

Cewek GR dan Cowok Baik

Ini adalah tentang bagaimana reaksi cewek GR saat bertemu dengan cowok baik, baik ke setiap wanita maksudnya.
Nggak mudah ternyata ‘didekati’ cowok baik tanpa melibatkan perasaan. Sekeras apapun hati menolak, akhirnya runtuh juga.
Dari yang awalnya hanya untuk sekedar ‘have fun’ malah menjadi bumerang untuk diri sendiri.
Dari yang awalnya hanya untuk teman membunuh sepi justru menjadi kesepian saat dia nggak ada.
Dari yang awalnya untuk partner foto-foto, justru jadi kesel sendiri tiap liat dia upload foto dengan wanita yang berbeda setiap minggunya. hih ngeselin!
Dari yang awalnya untuk sekedar teman makan, justru bikin kemakan omongan sendiri perihal “kita cuma teman, kan?”
Dari yang awalnya nggak ada apa-apa, sekarang jadi apa-apa bagi si cewek GR.
Dan dari yang awalnya cuma untuk melampiaskan rasa penasaran yang udah dipendam sejak lama, sekarang menjadi “mending nggak usah kenal.”

Bandung, 2 Februari 2014
13.49

Paradoks Memilih

"Semakin banyak pilihan, semakin kamu tidak bahagia."

Kenapa? Bukannya semakin banyak pilihan berati semakin bisa menentukan mana yang terbaik ya?

Begini, coba bayangkan saat kamu membeli baju. Ada 5 pilihan warna; merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan pink. Eh itu berati 6 pilihan.
Ketika akan membeli satu baju, kamu akan banyak berpikir, warna mana yang sekiranya cocok, setelah lama memilih, kamu membeli yang hijau, padahal saat itu bisa saja kamu sebenernya suka dengan yang biru. Sesampainya di rumah, kamu akan memikirkan tentang baju yang biru; kemudian ada sedikit rasa menyesal telah membeli yang hijau.

Atau kamu masih terus membandingkan antara yang telah kamu miliki dengan yang biru tadi.Jika saat itu pilihannya hanya biru, kamu tidak akan bingung, kan?

Sama halnya ketika kamu didekati banyak lelaki. Harusnya kamu senang, bukan? Tapi ya seperti tadi, kamu akan terus membandingkan.  Nah, misal kamu didekati tiga lelaki: lelaki pertama adalah yang kamu suka dari dulu, lelaki kedua adalah yang membuat kamu nyaman, dan lelaki ketiga adalah lelaki yang baik hati. Saat itu kamu menjadi pemikir; mana yang nantinya kamu pilih. Dan setelah bisa memilih, akan ada rasa bersalah pada dua lelaki lainnya, setelahnya kamu akan terus membandingkan lelaki yang kamu pilih dengan dua lelaki lainnya. Ketiganya akan terlihat kurang di mata kamu.
Berbeda saat kamu hanya didekati satu lelaki, kamu akan santai dan bahagia menjalaninya; merasa membutuhkan dan merasa saling melengkapi kekurangan masing-masing; tanpa harus mencari ‘pelengkap’ dari lelaki lain.

Begitulah. Mungkin.

Bandung, 19 Januari 2014
16:26

Lembek-Lembek ‘Nyony’

#30HariCeritaKebodohanMasaKecil #19 
@soyidiyos @zulhaq_

Gue rasa adik sengaja diciptakan untuk disuruh-suruh oleh kakaknya. Itu yang gue alami waktu kecil; sering disuruh ini itu sama kakak gue. Dia cewek, beda 5 tahun sama gue. Misalnya ibu nyuruh dia beli sesuatu, yang dia lakukan adalah nyuruh gue. Ya sebagai adik yang berbakti, gue pun nurut aja. Gue sering kesel sih tapi tak berdaya. #apeu.
Dia juga sering nyuruh gue masakin mie instan. Terus bikin pilihan ngehe: 1) mie dibagi dua oleh gue, dia yang milih, atau 2) mie dibagi dua oleh dia, gue yang milih. Dan gue selalu milih opsi kedua!
Suatu hari gue masak mienya kelamaan, nggak sengaja sampai lembek. Gue bagi dua, terus nyuruh dia milih. Ngeliat bentuk mienya lembek gitu, dia nggak mau. Akhirnya satu porsi mie jatuh ke tangan gue. Hahaha.
Hari-hari selanjutnya gue selalu sengaja bikin mienya kelembekan, biar dia nggak mau.

Padahal, gue pun sebenernya ga suka sama mie yang lembek gitu; geleuh kalo kata orang Sunda mah. Tapi, demi bisa makan mie seporsi tanpa dibagi, gue rela makan mie yang lembek :( Padahal ibu ngelarang kami keseringan makan mie instan, nggak baik buat kesehatan. Itulah kenapa di keluarga gue, nggak pernah ada yang makan mie sebungkus untuk sendiri, selalu dibagi ke yang lain. Mungkin, gue pengecualian :(

Bandung, 19 Januari 2014
15:55

Mie Instan

#30HariCeritaKebodohanMasaKecil #Day18
@soyidiyos @zulhaq_

Generasi 90an mungkin tau banget sama Krip-krip dan Anak Mas. Kedua jajanan ini cukup populer soalnya di masa kecil gue. Bentuknya mie gitu yang ditaburin bumbu kemudian diremas-remas, kalau Krip-krip sih langsung dimakan aja soalnya dari sononya udah dicampur bumbu dan diremukin. Rasanya enak! Tapi meski demikian gue dilarang kebanyakan makan ini sama ibu.
Waktu itu gue udah kelas 3, udah boleh tuh nyalain kompor untuk sekedar masak mie instan. Ya namanya juga bocah baru dibolehin megang sesuatu, gue jadi pengin masak mulu. Jatuhlah pilihan gue buat nyobain masak mie Anak Mas, gue pikir rasanya bakal sama aja kayak mie instan pada umumnya. Pas gue diemin di air yang mendidih, beberapa menit kemudian mienya jadi ancur. Gue matiin kompornya. Gue gagal sebagai anak perempuan yang baru masuk dapur.

Bandung, 19 Januari 2014
15:39

Jagoan

#30HariCeritaKebodohanMasaKecil #Day17
@soyidiyos @zulhaq_

Zaman sekarang obat merah masih ngetrend nggak sih? Soalnya waktu gue SD obat ini ngetrend banget. Obat merah tuh sejenis betadine gitu tapi warnanya merah dan ketika nempel ke kulit warnanya nggak ilang-ilang selama beberapa hari.
Temen-temen gue tiap ada luka selalu diolesin obat merah. Jadi kulitnya pada merah-merah gitu. Gue ngeliatnya kayak yang keren gitu. Tapi karena gue anteng jadi gue jarang terluka, kalau toh terluka selalu pakai betadine; lebih ampuh katanya.
Melihat beberapa teman, plus artis sinetron-yang-tiap-kali-terluka-selalu-pakai-perban-yang-diolesi-obat-merah, gue jadi latah. Pengin kayak gitu juga.
Gue pun beberapa kali sengaja menjatuhkan diri, dengan tujuan agar kaki lecet; terutama di dengkul dan siku. Tapi hasilnya tetap nihil.
Akhirnya, karena tak kunjung mendapat luka, gue pun minta uang ke ibu untuk beli obat merah dan mengoleskannya ke beberapa bagian tubuh seperti dengkul, kening, siku, dan lengan. Gue ngerasa keren.
Semua ini sebenernya gara-gara kakak gue bilang kalau anak yang semakin banyak bekas obat merahnya adalah jagoan. Dan gue pengin dicap sebagai jagoan. Huvt.

Bandung, 17 Januari 2014
19:24

Aku Anak Siapa?

#30HariCeritaKebodohanMasaKecil #day16
@soyidiyos @zulhaq_

Huft, setelah melalui hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan akhirnya baru bisa posting jam segini :|

Jadi gini ceritanya. Sore itu gue, Adi, Wina, Nilam, Herni, dan Mika kumpul di rumah Herni buat nengok bu Anita, wali kelas kami di kelas 4. Bu Anita sudah beberapa hari nggak ngajar karena sakit. Gue selaku ketua kelas saat itu mengusulkan untuk menjenguk beliau. Jadilah kami perwakilan kelas 4 menjenguk bu Anita.
Bada ashar kami berniat ke swalayan dulu untuk membeli roti dan buah. Kebetulan letak swalayan cukup dekat sehingga kami hanya berjalan kaki. Baru keluar gang dari rumah Herni, kami dicegat orang gila. Dia marah-marah sambil menggendong sampah. Kami tertawa-tawa melihat ulahnya. Oh iya, orang gila itu nemang sudah biasa ‘mangkal’ di situ. Namanya Sisum. Gosipnya, dia gila karena ditinggal suaminya.
Melihat kami, Sisum semakin ngamuk. Kemudian bilang, “Heh kamu yang baju putih sini. Ibu lagi ke asuransi kamu malah main! Cepet sini! Atau ibu congkel matanya!” Kami saling melirik, melihat siapa yang Sisum maksud. Daaan ternyata gue. Gue cuma ketawa-ketawa aja. Sisum makin marah dan mendekat. Sementara kami belum tahu musibah apa yang akan menimpa. Melihat tawa kami makin menjadi, dia menghardik kami sambil mengambil batu dari gendongannya. Aaaaaa, kami langsung lari. Gue, yang jadi sasaran utama mencoba lari paling depan. Begitu gue nengok, teman-teman sudah tidak ada. Rupanya mereka belok menuju rumah Herni. Mampus! Saat itu suasana sedang sepi. Cuma ada gue yang sedang dikejar Sisum. Syukurlah rumah gue masih di situ. Gue segera membuka pagar dan menutupnya lagi sambil teriak meminta nenek membuka pintu. Sisum semakin dekat sambil terus mengomel dan memanggilku ‘anakku’.
Pintu dibuka, gue langsung masuk lalu menguncinya. Lega.
Nenek dan Nanda bingung.
“Ema dikejar Sisum. Jangan buka pintu atau korden.”, kata gue sambil ngos-ngosan. Sementara Sisum terus mengamuk. Suasana kian mencekam saat dia menggedor-gedor pagar rumah sambil teriak-teriak. Bapak dan ibu sedang tidak ada di rumah saat itu.
Syukurlah warga segera tanggap dan mengusir Sisum. Dari balik korden gue liat Sisum meronta sambil terus memanggil gue anak. Dia pengin aku ikut sama dia. Dia kira aku anaknya.
Beberapa hari setelah itu gue nggak berani keluar rumah dan bolos ngaji. Gue jadi trauma sama orang gila. Niat baik menjenguk bu Anita pun gagal. Dan yang ngeselin adalah gue jadi diledekin anak orang gila.
Waktu nulis ini gue nggak tau sih letak kebodohan gue ada di mana. Haha!

Bandung, 16 Januari 2014
22:54

Yang Pertama

Kamu adalah alasanku untuk tetap mengisi kekosongan dalam tumblr ini. Sebab aku tau, saat kamu merindukan aku atau sekedar ingin ‘kepo’, kamu akan menjelajah ke sini. Kemudian tanpa sadar kamu tersenyum simpul saat aku menulis hal-hal baik tentang kamu; kita, manyun saat kamu menenukan satu-dua postingan tentang pria selain kamu, atau mungkin tanpa sadar dadamu terasa sesak saat aku menulis hal-hal sulit yang pernah kita lalui.

Nikmatilah, selagi kamu masih jadi yang pertama.

Bandung, 16 Januari 2014
14:12

Denganmu…

Segala sesuatu yang diawali dengan niat baik dan tujuan yang terencana tentulah akan berakhir baik juga. Demikian halnya dengan sesuatu yang dimulai tanpa tujuan, akan berakhir dengan sia-sia.
Kalimat itu mungkin klasik dan begitu-apa sih-banget. Sampai aku bertemu kamu.
Kamu seperti magnet, sedang aku bagai besi yang bisa kapan saja kamu tarik dan merekat kuat. Begitu mudah bagimu untuk bisa membolak-balik perasaanku; membuatku mengkaji ulang tentang apa itu cinta.
Kita tak pernah sependapat, selalu keukeuh dengan argumen masing-masing; yang seringkali menjadi bahan untuk sebuah pertengkaran, meski sering berakhir juga dengan pelukan.
Itu membuatku berpikir kalau kita memang tidak berjodoh; terlalu banyak perbedaan sifat dan pandangan, bukannya jodoh itu cerminan diri kita, ya? Namun di sisi lain, saat aku sedang teramat sangat merindukan kamu, aku lebih percaya dengan ‘kata orang’ yang satu lagi, kalau jodoh itu saling melengkapi kekurangan; tidak harus sama.
Tapi, apa pun itu, dari semua keraguan, pernah denganmu tidak ada yang sia-sia.

Buah Batu, 16 Januari 2014
14:03

Dalam beberapa hal, rasanya, sebuah pernyataan tidak lagi memerlukan pertanyaan atau alasan.